Ketika matematika hanya mengajariku ilmu statistika, kau mampu mengajari ilmu kedinamisan arti sayang.
Ketika kimia tak mampu menjelaskan bagaimana fenopthalein itu berubah menjadi hitam pekat saat hati teriris dibalik senyuman manis.
Dan ketika biologi hanya tersisa kau dan aku saja, tetapi tak pernah tercipta "kita"
kini, perasaan itu seperti sastra bahasa. Seolah mudah dibaca, tetapi sulit dicerna oleh nalar.
Aku tahu mungkin tulisan ini terdengar picisan, bodoh, bahkan mungkin gila. Ya, akupun merasakan hal yang sama. Tetapi, percayalah hatiku mempunyai sejuta alasan untuk tetap menulisnya. Sebuah tulisan yang tak akan pernah kau baca seutuhnya. Sebuah tulisan yang hanya akan meninggalkan luka ketika aku membacanya kembali. Ahh, sudahlah, biarkan tulisan itu berada ditempatnya. Disebuah kertas kecil yang kuberi judul "kamu"
Kamu itu sepenggal cerita yang baru saja dimulai, bahkan belum sampai memenuhi satu paragraf.
Kamu itu sebuah lagu terdramatis yang hanya satu bait, yang mungkin takkan pernah terselesaikan.
With love,
vhee
Tidak ada komentar:
Posting Komentar