Tenang, tak usah khawatirkan gadis itu. Tak ada yang mesti kamu takutkan. Dia tidak sedang meng inginkanmu kembali. Mungkin menurutmu ini picisan, tapi bersabarlah.. ini hanya sementara, biarkan gadis itu menulis apa yang ingin ia tulis sampai ambisinya mereda. Mungkin benar kamu tak seterang bintang lain, tak setenang deru ombak lain, tak seteduh rindang pohon lain. Tapi bagi dia kamu adalah nada tanpa irama yg menjadi penghantar tidurnya di setiap malam, menjadi melodi tanpa not yg masih ingin didengarkan nya. Sekaligus sandaran ketika ia resah tanpa alasan. Atau, entahlah.. logika gadis itu masih berkutat padamu. Semuanya sama. Hanya satu bedanya, tanpa kamu. Itu saja.
Mungkin benar kita butuh spasi dan tanda baca akhir di setiap kata. Bukan menandakan kita selesai, melainkan memberi jeda agar kita mampu menjadi paragraf paragraf baru yg lebih menarik untuk dibaca. Yang pada akhirnya, entah paragraf kita akan menjadi satu dan menyusun sebuah cerita utuh, atau justru kita menemukan judul masing-masing yg baru, yg mampu membuat kita lebih utuh dan melengkapi sebuah cerita